<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000000001603</controlfield>
    <controlfield tag="005">20240704021740</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-0718001603</subfield>
    </datafield>
    <controlfield tag="008">240704################g##########0#ind##</controlfield>
    <datafield tag="041" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">id</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">353.4</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="090" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">353.4.Mah.s</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Mahendra, A.A. Oka</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">Reformasi Pembangunan Hukum Dalam Perspektif Peraturan Perundang - Undang /</subfield>
      <subfield code="c">A.A. Oka Mahendra</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Jakarta :</subfield>
      <subfield code="b">Departemen Hukum dan HAM RI,</subfield>
      <subfield code="c">2006</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">xi, 460 halaman :</subfield>
      <subfield code="b">ilus ;</subfield>
      <subfield code="c">21 cm</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1=" " ind2="4">
      <subfield code="a">Reformasi</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">353.4 MAH r</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Pornografi dan pornoaksi sebenarnya bukan merupakan masalah baru, tetapi wacana tentang masalah tersebut akhir-akhir ini semakin menonjol. Karena seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi ragam media yang dapat digunakan untuk menyebarluaskan pornografi semakin luas dan relatif lebih mudah di akses.Hal tersebut merangsang meningkatnya pornoaksi. Hampir setiap hari kita membaca di media massa, mendengar, dan melihat berita di media audio visual tentang terjadinya perkosaan, dan bentuk-bentuk pelecehan seksual lainnya. KUHP peninggalan kolonial mencantumkan ikhwal pornografi dan pornoaksi tersebut dalam Buku Kedua Bab XIX tentang Kejahatan terhadap Kesusilaan, dan dalam Buku Ketiga Bab VI tentang Pelanggaran Kesusilaan. Dari sistematika KUHP tersebut dapat kita pahami bahwa pembentuk KUHP menganggap bahwa pornoaksi dan pornografi bertentangan dengan kesusilaan, dan dianggap sebagai perbuatan tercela.</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="990" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">18.094</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="990" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">160118094</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
