<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000000003286</controlfield>
    <controlfield tag="005">20190726095337</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-0718003286</subfield>
    </datafield>
    <controlfield tag="008">190726################g##########0#ind##</controlfield>
    <datafield tag="020" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">9798116089</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="041" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">id</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">229</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="090" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">229 Vre b</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Vredenbregt, Jacob</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">Bawean Dan Islam /</subfield>
      <subfield code="c">Jacob Vredenbregt</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Jakarta :</subfield>
      <subfield code="b">Institute of Public Administration, The University of Michigan,</subfield>
      <subfield code="c">1990</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">xii; 214 hlm. :</subfield>
      <subfield code="b">ilus ;</subfield>
      <subfield code="c">24 cm</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Islam</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">229 Vre b</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="502" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Pulau bawean, yang terletak ditengah laut Jawa, Pernah menduduki tempat yang penting dalam jaringan lalu lintas Nusantara.  Kedudukan sentral dalam jalur pelayaran antar pulau ini menjadikan Bawean sebagai  persinggahan untuk menguisi bahan makanan dan air minum serta sebagai tempat bernaung terhadap angin badai dan topan. Tidaklah mengherankan apabila interaksi dengan dunia luar ini telah membawa dampak yang seirama dengan perubahan-perubaha yang terjadi di daerah lain di Kepulauan Indonesia. Sentuhan Kebudayaan Hindu/Budha telah meninggalkan beberapa situs purbakala yang patut  mendapat perhatian ahli arkeologi, meskipun hingga sekarang pulau ini belum dijadikan ojek penelitian dan usaha konservasi kepurbakalaan. Di samping itu, Desa Candi di pedalaman, di dekat Danau Kastoba, merupakan suatu petunjuk bahwa penduduk Bawean pada masa lampau pernah terpengaruh oleh kebudayaan Hindu/Budha tersebut. Melalui jaringan pelayaran ini pula agama dan kebudayaan Islam telah masuk ke Pulau Bawean. Dimulai dengan kunjungan pendakwah secara insidental, maka kemudian pada awal abad ke-16, dengan kedatangan Said Maulana Umar mas'od, penerimaan agama dan kebudayaan Islam di bawean semakin mapan, sehingga terciptalah sekarang masyarakat Bawean yang taat beragama dan yang kehidupan sehari-harinya diatur berdasarkan lima waktu sembahyang. Lokasinya yang khas ini telah membentuk suatu masyarakat dengan kebudayaan yang khas pula, yang pada masa lampau lebih banyak berorientasi ke kota, khususnya kota Singapura, tempat perantauan yang dahulu menjadi cita-cita setiap pemuda Bawean sejak abad ke-19 sampai dengan awal dasawarsa 1960-an.</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="856" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Perpustakaan Lembaga Administrasi Negara</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="990" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">24395</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="990" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">24395</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
